Gagal Paham tentang Erdogan, Gülen, dan (Upaya) Kudeta di Turki

gettyimages-463325157

Bagaimana judul di atas? Pretensius sekali ya? Cocok untuk kepala berita The New York Times edisi Bahasa Indonesia.

Percobaan kudeta di Turki tengah Juli lalu membuat newsfeed akun facebook saya ramai. Kebanyakan sih bersyukur bahwa kudeta tersebut gagal. Saya sendiri sebagai pelahap berita apapun, hanya tertarik dengan perkembangan berita tersebut tanpa memihak kepada pengkudeta atau terkudeta. Dan jujur, saya tertarik dengan upaya kudeta tersebut, karena beberapa minggu sebelumnya, saya baru saja membaca sebuah tulisan di The Daily Beast oleh Maajid Nawaz dengan tajuk The Madness of Turkey’s ‘Sultan’ Erdogan. Yang punya waktu luang, silahkan baca, biar tambah pengetahuannya. Saya nggak mau menjabarkan isi artikel itu di sini. Ayo, jangan malas!

Pada awalnya, tertuduh dalam upaya kudeta ini adalah militer Turki, yang kemudian menyusut menjadi “salah satu faksi di dalam militer Turki”. Saya sendiri saat mendengar bahwa militer Turki berada di balik upaya kudeta merasa sedikit ragu. Kenapa? Karena salah satu pucuk pimpinan militer Turki adalah orang dekat Recep Tayip Erdogan. Lalu tuduhan mulai bergeser kepada Fethullah Gülen, seorang cleric/pemuka agama yang dulu merupakan orang dekat Erdogan, namun kini mengasingkan diri di Pennsylvania dan dianggap sebagai teroris oleh Erdogan.  Gülen dianggap sebagai otak dari percobaan kudeta ini dengan menggunakan sebagian anggota militer Turki; untuk meruntuhkan sekularisme di Turki.

Siapa Fethullah Gülen?
Fethullah Gülen merupakan seorang pemuka agama di Turki yang juga penulis dan politikus. Ia adalah pendiri gerakan Gülen atau lebih dikenal dengan Hizmet di Turki. Hizmet sendiri berarti pelayanan. Gülen menggunakan mazhab Hanafi sebagai basis dakwahnya.

fethullah-gulen-75-0

Gülen merupakan salah satu orang dekat Erdogan hingga tahun 2013; di mana pada tahun tersebut kedekatan itu pecah saat Erdogan menuduh Gülen berada di balik penyelidikan tindak pidana korupsi yang menyentuh pemerintahan Turki. Sejak saat itu, Gülen mengasingkan diri di Penssylvania, Amerika Serikat. Gülen pun masuk dalam daftar teroris paling dicari oleh Pemerintah Turki dan dianggap sebagai pemimpin dari Gulenist Terror Organisation (FETÖ). Pemerintah Turki pernah meminta kepada pemerintah Amerika Serikat agar Gülen diekstradisi. Namun permintaan ini ditolak oleh pemerintahan Amerika Serikat, karena Amerika Serikat tidak mendapatkan bukti bahwa Gülen berada di belakang tindak terorisme apapun.

Gülen dan Sekularisme
Walau tidak pernah menyebut langsung sekularisme sebagai “anti-relijius”, Gülen sendiri mengkritik sekularisme di Turki sebagai reductionist materialism, sebuah cabang pemikiran filosofis bahwa materi merupakan substansi terpenting di alam; dan semua kejadian serta fenomena merupakan hasil dari interaksi antar materi… or something like that. Intinya, ga relijius deh, dan menentang keberadaan Tuhan dan juga ruh.

Pada 31 Agustus 2000, pemerintahan Turki yang saat itu dipimpin oleh PM Bülent Ecevit menjatuhkan tuduhan bahwa Fethullah Gülen berupaya menggulingkan sekularisme di Turki dan mendirikan kediktatoran Islam di negara tersebut. Saat itu, Gülen terancam hukuman penjara hingga 10 tahun.

Jadi, kita bisa lihat posisi Gülen dan sekularisme Turki di sini ya.

Gagal Paham
Lalu, di mana letak gagal paham saya? Jadi begini. Gülen adalah seorang cleric yang justru tidak menyukai Turki sekuler dan sudah beberapa kali dianggap akan meruntuhkan sekularisme di Turki dan mendirikan pemerintahan Islami. Gülen saat ini dituding sebagai pemimpin gerakan FETO yang dianggap kelompok teroris oleh pemerintahan Erdogan; dan dituding berada di balik percobaan kudeta pada tengah Juli lalu.

Pertanyaan saya kepada para fanboy Erdogan: Jika Gülen berada di balik percobaan kudeta tengah Juli lalu, dan kalian selama ini menginginkan tegaknya khilafah serta kembalinya Turki menjadi Kesultanan Islam (or at least, Republik Islam); mengapa kalian malah bersorak-sorai saat percobaan kudeta baru-baru ini gagal terlaksana? Bukankah kalian seharusnya bersedih bahwa percobaan kudeta yang dilakukan kelompok Gülen yang jelas-jelas Islamis dan tidak menyukai sekularisme itu gagal? Bukannya bersedih, kalian malah bersyukur bahwa sebuah usaha untuk menurunkan seorang Presiden yang sudah jelas menyatakan negaranya akan tetap sekuler; gagal terlaksana. Jadi sebetulnya, siapa yang kalian idolakan dan inginkan? Khilafah atau Erdogan?

48805147-cached

Kegagalan saya untuk memahami jalan pikir tersebut membuat saya bertanya lagi. Apakah kita berada di realitas yang sama? Atau saya ternyata hidup di semesta paralel di mana Erdogan adalah seorang bad guy, sementara di semesta kalian Erdogan adalah seorang yang patut dipuja-puja?

Ini murni kebingungan saya ya. Tidak ada maksud apapun. Pengetahuan saya tentang Turki dan Erdogan mungkin masih jauh dari pengetahuan kalian para fanboy Erdogan di Indonesia. Siapalah saya? Cere… Saya sendiri tidak mendukung Gülen dan tidak juga pemuja Erdogan; karena perang mereka bukanlah perang negeri ini, apalagi perang saya pribadi. Saya hanya bisa berdoa, semoga Turki dan rakyatnya baik-baik saja di tengah penangkapan para jurnalis pengkritik pemerintah, dosen, dan juga penutupan ratusan bahkan ribuan sekolah di sana yang dianggap pendukung Gülen. Heck! Bahkan Pemerintah Turki minta agar beberapa sekolah di Indonesia dan Universitas Islam Negeri ditutup karena dianggap pendukung Gülen. Tsk!

Menganggap tulisan ini sarkastik? Wah, kalian terlalu baik… Itu sama saja menyatakan bahwa kemampuan sarkasme saya sudah meningkat pesat. Dan buat kalian yang sekuler beneran, ga usah seneng juga baca tulisan ini. Saya cuma menyalurkan kebingungan saya saja.

Sudah ya… Mau makan kebab dan es krim Turki dulu.

4747306144_c70a9116a9

Bacaan tambahan dari semesta paralel, untuk ngisi memori otak aja. Dan maaf, kalo sumber-sumbernya kebarat-baratan atau terkesan sekuler.

  1. Turkey’s coup: the Gülen Movement, explained
  2. Detainees beaten, tortured and raped after failed Turkey coup, Amnesty says
  3. The coup in Turkey was bad for everybody, except Erdogan
  4. 16 Hours in the Turkish Coup
  5. What’s worse: a coup or a post-failed-coup Erdogan?
  6. Back in charge, Erdogan edges closer to total control in Turkey
  7. Is Erdoğan Actually Oppressing the Minorities?
  8. Semua link dalam tulisan di atas (biar nggak sengklek).
  9. Or simply open Medium.com, search Turkey’s coup.